Terima Kasih Pak, Sudah Menyadarkan Saya..

Cerita berawal dari suatu sore, sewaktu pulang dari rutinitas pekerjaan, saya riding dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Ingin cepat sampai di rumah karena waktu buka puasa sebentar lagi. Saat itu kodisi lalu lintas memungkinkan saya untuk pelintir gas memacu si Kebo lebih kencang. Beberapa mobil dan motor berhasil saya lewati dengan sukses. Di sebuah jalan lurus yang lebar terdapat 2 jalur searah ada truk yang berjalan pelan di jalur kiri karna memang penuh dengan muatan. Di sebelah kanan truk ada kontainer yang berjalan lebih pelan lagi. Truk ini berusaha mendahului truk kontainer tersebut. Di sebelah kiri masih ada space yang cukup lebar yang memungkinkan saya untuk mendahului truk. Saya ambil posisi paling kiri untuk mendahului, tapi di depan ada seekor bebek yang juga akan mendahului. Saya mepet di belakang bebek itu. Body bebek sudah masuk separo, tiba2 byarrr.. lampu stop menyala, pengendara bebek (sebut saja si A) ngerem mendadak ndak jadi mendahului truk. Tiiiinnnnn spontan tangan kiri saya pencet tombol klakson agak lama, reflek. Rupanya si A jadi takut karena dari depan ada motor berlawanan arah yang ngambil jalur kami. Tapi kalau saya lihat spacenya masih aman untuk mendahului truk tadi. Makanya saya reflek tekan klakson biar si A langsung saja mendahului tapi dia tetep aja ndak berani nyalip.
Dan ternyata dengan kejadian tadi, si A ndak terima atas perlakuan saya. Terlihat dari cara berkendaranya berusaha blokir saya biar ndak bisa mendahului dia. Saya ambil kanan dia ikut kanan, saya ambil kiri dia ikut ke kiri. Asem!!! maunya apa sih orang ini??? Emosi saya mulai naik.
Saat jalanan sudah longgar saya berhasil sejajar dengan si A. Saya tengok ke wajahnya, tampangnya lumayan sangar, berkumis dengan tatapan tajam penuh emosi terlihat dari balik mika helm-nya yang bening. Sekian detik saya sejajar dengan si A, sama-sama emosi. Mau saya tendang saja motornya, tapi akh… jadi panjang nanti urusannya. Langsung saja saya tancap gas ninggalin si A yang masih emosi.
Sesaat setelah meninggalkan pengendara bebek tadi, saya jadi berpikir “Arogan sekali saya ya…” Emosi saya berbalik 180 derajat menjadi rasa penyesalan. Menyesali kelakuan bodoh saya yang ingin menang sendiri. Seolah-olah saya yang paling benar, egois ingin melakukan apa yang saya inginkan padahal ada pengendara lain yang harus dihormati dan berhak menggunakan jalan.
Penyesalan selalu datang terlambat, jadi merasa bersalah dengan bapak-bapak pengendara bebek tadi. Semoga beliau memaafkan saya.

Hikmah dari pengalaman saya di atas yang bisa saya ambil adalah :
– Selalu Safety Riding, terlalu mepet dengan kendaraan di depan kita itu sangat berbahaya.
– Jangan terburu-buru ingin sampai di rumah jika memang tidak memungkinkan.
– Selalu kontrol emosi saat di jalan, dengan emosi maka akal sehat kita menjadi hilang dan cara berkendara akan ngawur.
– Hormati pengendara lain yang juga  punya hak memakai jalan.

  1. i love this posting😀

  2. kemaki tenan peh numpak pulsar *kabboorrrrr

  3. yyooo….tak trimo ucapanmu ngger….:mrgreen:

  4. mantebb

  5. wah…untung wes sadar om..:mrgreen:

  6. ngerem mendadak, itu mah biasa dilakukan biasanya cewek, biasanya mereka tergolong manja di jalan, ada jalan rusak sedikit langsung ngeremnya minta ampun, jika kita dibelakang mereka berhati-hatilah

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: