Jadi Pejalan Kaki pun Susah di Negeri Ini

Semakin pesatnya pertumbuhan kendaraan baik roda empat maupun roda dua semakin menyesaki jalan yang pertumbuhannya tidak seberapa. Bisa disaksikan, sekarang pemandangan macet menjadi hal yang biasa terutama di Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar yang lainnya. Bukan hanya kendaraan itu sendiri yang dituduh menjadi biang kerok kemacetan, tapi pejalan kaki juga dituding sebagai salah satu penyebab kemacetan, lho kok bisa..?
Ya, pejalan kaki pun tak luput jadi tersangka penyebab macet. Alasannya adalah jika pejalan kaki menyeberang jalan, kendaraan akan berhenti sesaat untuk memberi kesempatan mereka lewat. “Lho, kan berhentinya cuma sebentar to?” Iya cuma sebentar, tapi kalo sering? sama aja lama. Belum lagi pejalan kaki yang menyeberang di tempat-tempat yang ramai padahal di situ sudah ada tanda dilarang menyeberang. Seharusnya menyeberang itu naik ke jembatan penyeberangan biar aman dan gak bikin macet. Mmmmm… masuk akal juga sih.
Tapi menurut saya menyeberang tidak pada tempatnya atau di tempat yang dilarang menyeberang memang salah dan melanggar peraturan. Tapi sebelum kita menyalahkan monggo.. kita lihat dari sisi yang lebih luas, apa yang menjadi penyebab pejalan kaki ini melakukan pelanggaran.
Jika pejalan kaki ini mau menyeberang jalan saja susah, apa sebabnya? Jembatan penyeberangan jumlahya relatif sedikit. harus berjalan jauh dulu untuk mencari jembatan penyeberangan. Kalaupun ada, jembatan penyeberangannya memprihatinkan. Banyak yang atapnya rusak dan bocor. Lantainya sudah bolong-bolong, tiangnya banyak yang keropos. Kondisi ini malah membahayakan pejalan kaki itu sendiri. Jika malam hari tidak ada lampu, sepi, yang rawan tindak kejahatan. Tidak sedikit yang lewat jembatan penyeberangan kena palak sama preman. Yang saya lihat di tivi, di Jakarta banyak “oknum” pengendara sepeda motor dengan “sopan”-nya melenggang bebas di atas jembatan penyeberangan. Kalo ditanya alasannya muternya jauh, lebih efektif lewat sini katanya. Hadeehh.. kalo nabrak orang jalan gek kepiye to yo…? Sama aja kayak preman juga “oknum” pengendara motor seperti ini, yang malak hak keamanan pejalan kaki.

Apa ndak bahaya kalo kaya gini

Bocor

Kayanya salah jalan pak..

Tidak ada jembatan penyeberangan, mungkin masih ada zebra cross untuk tempat menyeberang. Tapi dengan zebra cross tentu tidak menjamin keamanan yang akan menyeberang. Ditengah padatnya lalu lintas, Pejalan kaki yang mau menyeberang harus relatif sabar menunggu saat yang tepat menyeberang. Kalo ada lampu “Bangjo” (lampu merah) sih enak, tinggal pencet tombol, beberapa saat kemudian lampu menyala merah dan mereka bisa menyeberang. Tapi jika ndak ada? Butuh kewaspadaan tinggi untuk memotong jalan dan memberhentikan laju kendaraan yang sedang melaju kencang karena salah sedikit nyawa bisa melayang. Makanya sekarang banyak Polisi yang bertugas di tempat-tempat yang banyak penyeberang jalan. Mungkin kalo tidak ada Polisi lebih susah meminta kesadaran para pengendara untuk berhenti sebentar. Terima Kasih Bapak-bapak Polisi dan Ibu-ibu Polwan atas jasa Anda.

Terima kasih pak Pol...

Bisa menyeberang jalan dengan selamat belum bisa membuat pejalan kaki merasa lega. Mereka seharusnya berjalan dengan aman di trotoar yang memang dibuat untuk pejalan kaki. Tapi katanya Sule, “Oooo… Tidak Bisssaa…” hehehehe apa sebabnya? Tak bisa dipungkiri, trotoar adalah lahan yang strategis untuk mendirikan lapak bagi pedagang yang kakinya banyak alias pedagang kaki lima. Sudah jelas-jelas ada tulisan larangan untuk berjualan di trotoar, tapi masih saja berjualan. Saya tidak menyalahkan pedagang kaki lima-nya karena menurut mereka, mereka juga dipungut biaya sebagai biaya sewa lahan oleh “oknum petugas” entah petugas dari mana. Jadi seolah-olah memang dilegalkan berjualan di trotoar.

Yang jalan ngalah dulu ya Mbak.. Trotoar-nya lagi saya buat jualan.

Yang paling menyebalkan lagi-lagi adalah “oknum” pengendara sepeda motor yang dengan sak penak udel-e dewe dan dengan tanpa rasa bersalah melaju diatas trotoar. Entah mereka tahu aturan atau tidak, dengan sengaja atau tidak, yang pasti sudah mengambil hak para pejalan kaki. Wes jan.. kok kayanya “oknum” ini iri kalo ada tempat lain yang lapang dan longgar.
Semoga saya tidak tergolong kaum pengendara motor yang mengambil hak-hak orang lain. Amiin.

Jangan maksa to pak pak..

Dalam Undang-undang Lalu Lintas nomor 22 Tahun 2009 pejalan kaki juga dilindungi. Hak-hak dan ketentuan diatur sedemikian rupa untuk menjaga keselamatan para pejalan kaki. Tapi apa nyatanya? pejalan kaki masih menjadi korban para pelanggar peraturan.

Kalo bersih gini kan enak buat jalan jalan

Masih menyalahkan pejalan kaki?

    • Arif Rakhman
    • June 26th, 2011

    itu kalo saya liat ada motor naik trotoar gitu langsung aja saya jorokin ke jalan

    • Sabar Mas.. Hehehehehe Saya juga masih emosi kalo liat orang naik motor semaunya sendiri.. Emange jalane mbah-e opo piye?😀

    • jahe
    • July 1st, 2011

    sy seneng liat orang naek motor semaunya sendiri, krn kalo semaunya orang lain bisa bingung nanti naeknya wkwkwkwk

    • sangprabo
    • February 25th, 2013

    Maaf Bos, gambarnya ane comot buat postingan di blog saya di http://blog.prabowomurti.com/2013/02/menyeberang.html ya… Matur nuwun dan salam kenal🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: